HOME
Tampilkan postingan dengan label AKUNTANSI BIAYA 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKUNTANSI BIAYA 2. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2011

BIAYA STANDAR


Definisi
Biaya yang ditentukan di muka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu, di bawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan faktor-faktor lain tertentu
Manfaat
  1. Memotivasi pelaksanaan pekerjaan secara efektif.
  2. Pedoman kepada manajemen, berapa biaya yang seharusnya untuk melakukan kegiatan.
  3. Menyajikan analisis penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar.
Kelemahan 
Biaya stadar menjadi cenderung kaku / tidak fleksibel, keadaan produksi mengalami perub, sedangkan perbaikan standar jarang dilakukan

PROSEDUR PENENTUAN BIAYA STANDAR (BBB)
Unsur BBB Standar
  1. Masukan fisik yang diperlukan untuk produksi (kuantitas standar)
  2. Harga per satuan masukan (harga standar)
Penentuan Kuantitas Standar
  1. Penyelidikan teknis.
  2. Analisis catatan masa lalu dalam bentuk:
•         Menghitung rata rata pemakaian bahan baku untuk produk yang sama pada periode tertentu di masa lalu.
•         Menghitung rata rata pemakaian bahan baku pada pekerjaan yang paling baik/paling buruk.
Penentuan Harga Standar
  1. Harga yang diperkirakan akan berlaku di masa yang akan datang.
  2. Harga yang berlaku saat penyusunan standar.
  3. Harga yang diperkirakan sebagai harga normal dalam jangka panjang.

PROSEDUR PENENTUAN BIAYA STANDAR (BTK)
Unsur BTK Standar
  1. Jam tenaga kerja standar
  2. Tarif upah standar
Penentuan Jam Tenaga Kerja Standar
  1. Menghitung rata rata jam kerja yang dikonsumsi suatu pekerjaan periode lalu.
  2. Test run operasi produksi dalam keadaan normal.
  3. Penyelidikan gerak & waktu karyawan dalam keadaan nyata.
  4. Taksiran wajar atas dasar pengalaman operasi.
Penentuan Tarif Upah Standar
  1. Perjanjian dengan organisasi karyawan
  2. Data upah masa lalu
  3. Perhitungan dalam keadaan normal

Sistem Biaya Taksiran

Sistem biaya taksiran adalah sistem akuntansi biaya produksi yang menggunakan bentuk biaya yang ditentukan dimuka dalam menghitung biaya produksi.
Dibandingkan dengan sistem biaya standar, keduanya merupakan biaya yang ditentukan di muka, namun keduanya berbeda dari sisi penentuan, pengumpulan, penafsiran, dan penggunaannya.
Dalam sistem biaya standar, norma fisik ditentukan berdasarkan suatu penyelidikan teknik, dan gerak – waktu. Sedangkan sistem biaya taksiran hanya berdasarkan pengalaman produksi masa lalu.
Tujuan penggunaan sistem biaya taksiran:
  • untuk jembatan menuju system biaya standar
  • untuk menghindari biaya yang relatif besar pemakaian sistem biaya standar
  • untuk mengendalikan biaya & analisis kegiatan
  • untuk mengurangi biaya akuntansi
Penentuan biaya taksiran:
  1. Biaya taksiran BBB ditentukan dengan menaksir kuantitas BB yang dibutuhkan & taksiran harga per satuan.
  2. Penaksiran kuantitas Bahan Baku yang akan dikonsumsi dalam setiap satuan produk didasarkan pada spesifikasi teknis, percobaan atau masa lalu.
  3. Biaya taksiran BTK ditentukan dengan menaksir jam yang diperlukan untuk menyelesaikan produksi dan tarif tiap jam.
  4. Taksiran BOP yang dibebankan kepada produk didasarkan pada tarif yang ditentukan dimuka.
  5. Dalam menentukan tarif BOP ini perlu diadakan pemisahan BOP ke dalam unsur biaya tetap & variabel.
  6. BOP Variabel ditaksir dengan melihat hubungan biaya tersebut dengan produksi, dengan anggapan bahwa terdapat hubungan yang konstan jumlah produksi dengan biaya yang dikeluarkan.
Akuntansi sistem biaya taksiran:
Mendebit rekening BDP dengan biaya produksi yang sesungguhnya terjadi & mengkredit rekening BDP dengan biaya taksiran yang melekat pada produk jadi yang ditransfer ke gudang & persediaan produk dalam proses.
Perlakuan terhadap selisih :
  • Ditutup ke rekening Harga Pokok Penjualan / Rugi Laba.
  • Dibagikan secara adil kepada produk selesai dalam periode yang bersangkutan, yaitu dibagikan ke rekening Produk Jadi & HPP.
  • Dibagikan secara adil ke rekening: Persediaan BDP, Persediaan Produk Jadi, & HPP.
  • Membiarkan selisih tersebut tetap dalam rekening selisih, sehingga rekening ini berfungsi sebagai deferred account. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan selisih yang terjadi diantara periode akuntansi akan saling menutup.